Kalahkan Penggunaan Jarum Suntik, LGBT Jadi Penularan Tertinggi HIV/AIDS di Riau

Logo
Ilustrasi.

(RIAUHITS.COM) PEKANBARU - Tren penularan tertinggi kasus HIV dan Aids di Riau saat ini mulai bergeser ke perilaku menyimpang lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Sebelumnya, penggunaan jarum suntik dan menyasar ibu rumah tangga lebih tinggi.

Data Dinas Kesehatan menunjukkan, kasus terbanyak tahun 2018 untuk penularan HIV dan Aids ditemukan pada LGBT sebanyak 124 kasus. Selanjutnya, pelanggan penjaja seks sebanyak 82 kasus, dilanjutkan pasangan beresiko tinggi 28 kasus dan wanita penjaja seks 20 kasus, serta lainnya 138 kasus.

"Sekarang yang meningkat itu penularan dan kasusnya karena LGBT berdasarkan data yang ada di Dinas Kesehatan," kata Kadinkes Riau, Mimi Yuliani Nazir.

Di sisi lain, menurut Sri Suryaningsih selaku Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Riau, memang ada kecenderungan peningkatan kasus temuan HIV dan Aids pada kalangan LGBT.

"Sekarang beralih ke kalangan LGBT lebih banyak kasus yang ditemukan. Peningkatannya di Riau sendiri dari sebelumnya kasus HIV dan Aids pada LGBT dari awalnya 0,1 sekarang 0,7 persen," paparnya.

Dia menerangkan, anehnya lagi temuan dari KPA ada kecenderungan yang menjadi korban terinfeksi HIV dan Aids dari kalangan LGBT ini merupakan generasi muda termasuk para mahasiswa di Riau.

"Terutama kalangan mahasiswa dan generasi penerus arahnya ke sana sekarang kasusnya," bebernya.

Kata dia lagi, tentunya, itu menjadi persoalan serius yang harus ditangani bersama karena jika tidak ada upaya pencegahan bisa jadi kasus pada generasi muda semakin meningkat.

"Ini persoalan serius di Riau, LGBT menyasar kalangan anak muda dan parahnya mereka terinfeksi HIV dan AIDS," tuturnya.

KPA menilai, hal itu terjadi karena, selain gaya hidup, juga trauma masa lalu, yakni anak yang pernah jadi korban sodomi biasanya memiliki kelainan seks, bahkan bisa menjadi predator bagi yang lainnya.

"Seperti pernah disodomi maka dia akan cenderung kesana. Makanya ada istilah sekarang, orang tua ditakutinya sekarang bukan punya anak perempuan, namun anak laki-laki (LGBT)," tegasnya.

Perhatian KPA kemudian selain LGBT, adalah adanya peningkatan kasus ibu dan anak bahkan di Riau lebih tinggi dari nasional. Jika nasional hanya dua persen, Riau sudah empat persen peningkatan kasusnya.

"Ini biasanya banyak ibu dan anak tak berdosa hanya jadi korban dari pola hidup bapaknya yang tidak baik," urainya.(rzt)



BACA JUGA

Comments (3)

  • Logo
    - Tahmina Akthr

    https://www.riauhits.com/berita-kalahkan-penggunaan-jarum-suntik-lgbt-jadi-penularan-tertinggi-hivaids-di-riau.html Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Velit omnis animi et iure laudantium vitae, praesentium optio, sapiente distinctio illo?

    Reply

Leave a Comment



Masukkan 6 kode diatas)